beras atau bahan nabati yang dikeringkan dapat menggunakan
melindungibahan pangan dari kerusakan dan juga dapat meningkatkan daya simpan bahan pangan. Ada beberapa model pengemasan beras yang sering dugunakan, salah satunya pengemasan menggunakan karung goni. Pengemasan menggunakan karung goni menyebabkan beras pecah kulit maupun beras giling
A MIKROORGANISME Agar mikroorganisme dapat hidup dan berkembang biak dengan baik, kandungan air di tempat ia tumbuh itu harus cukup, dan suhu lingkungannya harus cocok. Sehingga, melalui pengaturan air dan suhu yang baik, kita dapat memperpanjang masa konsumsi suatu makanan. Macam-macam mikroorganisme yang biasa tumbuh pada bahan makanan: 1.
Nuggettermasuk salah satu makanan hewani hasil olahan ayam yang memiliki cita rasa tertentu dan biasanya berwarna kuning keeamasan. Saat ini, nugget ayam menjadi salah satu produk yang paling dicari. Bahan baku nugget adalah potongan daging ayam, tepung, dan bumbu. Ada juga yang ditambahkan wortel atau keju.
Secaraistilah, Bahan makanan hewani adalah bahan makanan yang berupa atau berasal dari hewan atau produk-produk yang diolah dengan menggunakan bahan dasar asal hewan. Berbagai Macam Teknik Pengawetan Makanan Makanan Nabati yang diawetkan Berikut daftar makanan nabati yang diawetkan, antara lain : 1.
FoodStation Beras Bisa Jadi Krisis Berikutnya bagi Pangan Dunia, Menyusul Anjloknya Produksi Beras India Internasional - %
Site De Rencontre Dans L Est De La France.
BerandaTeknologiProses dan Alat Pengawetan Bahan Nabati dan Hewani dengan Pengeringan Pengawetan dengan Pengeringan. Saat petani padi tiba waktunya untuk memanen hasil bertaninya, pernahkan kamu melihat hal apa yang dilakukan petani tersebut dengan padi hasil panennya? Pernahkah kamu melihat petani tersebut menjemur padi di bawah sinar matahari? Itulah salah satu contoh proses pengeringan. Pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan cara menguapkan air tersebut dengan menggunakan energi panas. Biasanya kandungan air bahan tersebut dikurangi sampai suatu batas agar mikroba tidak dapat tumbuh lagi di dalamnya. Keuntungan produk hasil pengeringan adalah awet, lebih ringan, volume lebih kecil sehingga memudahkan penyimpanan dan transportasi, serta menimbulkan citarasa khas. Selain itu, banyak bahan yang hanya dapat digunakan apabila telah dikeringkan, misalnya tembakau, kopi, teh, biji-bijian, dan lain- lainnya. Pengeringan dapat berlangsung dengan baik jika pemanasan secara merata, dan uap air dikeluarkan dari seluruh permukaan bahan tersebut. Faktor-faktor yang memengaruhi pengeringan terutama adalah luas permukaan bahan, suhu pengeringan, aliran udara, dan tekanan uap di udara. Pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan suatu alat pengering artificial drier, atau dengan penjemuran sun drying, yaitu pengeringan dengan menggunakan energi langsung dari sinar matahari. Pengeringan buatan artificial drying mempunyai keuntungan karena suhu dan aliran udara dapat diatur sehingga waktu pengeringan dapat ditentukan dengan tepat dan kebersihan dapat diawasi sebaik-baiknya. Penjemuran mempunyai keuntungan karena energi panas yang digunakan murah dan bersifat murah serta melimpah, tetapi kerugiannya adalah jumlah panas sinar matahari yang tidak tetap sepanjang hari, dan kenaikan suhu tidak dapat diatur sehingga waktu penjemuran sukar untuk ditentukan dengan tepat. Selain itu, karena penjemuran dilakukan di tempat terbuka yang langsung berhubungan dengan sinar matahari, kebersihannya harus diawasi dengan sungguh-sungguh. Kadar air suatu bahan yang dikeringkan memengaruhi seberapa jauh penguapan dapat berlangsung, lamanya proses pengeringan dan jalannya proses pengeringan.
- Beras jadi makanan pokok utama bagi sebagian besar masyarakat di dunia, termasuk Indonesia. Namun beras tidak hanya yang putih, ternyata ada berbagai jenis beras yang dapat kita konsumsi. Jenis - jenis beras tersebut berbeda dalam warna, bentuk, rasa, dan nilai jenis - jenis beras dari berbagai negara yang memiliki rasa dan keunikan sendiri, seperti dikutip dari Chowhund dan Thespruceeats Baca juga 4 Jenis Beras yang Lebih Sehat daripada Beras Putih, Apa Saja? 1. Beras putih Ada dua jenis beras yang paling umum yaitu, beras putih dan beras merah. Keduanya tumbuh berbiji panjang, sedang, dan pendek, tetapi ada perbedaan antara beras putih dan beras merah. Sebelum proses tanam dilakukan, sekam, dedak dan kuman disingkirkan terlebih dahulu dari beras putih. Kemudian, dilanjutkan ke proses penggilingan. Dua hal tersebut membuat beras putih memiliki tekstur yang lebih empuk, dan masa penyimpanan yang lebih lama dibandingkan beras merah. Namun, disamping itu beras putih kehilangan banyak kandungan nutrisi, itu sebabnya dianggap kurang sehat dibandingkan beras merah. Baca juga 11 Etika Makan di Jepang, Tidak Boleh Taruh Lauk di Atas Nasi 2. Beras merah Beras merah memiliki antosianin atau sejenis antioksidan yang tinggi, sehingga beras berwarna seperti beras putih, beras merah dimakan bersama dengan sekamnya, hal itu membuat beras merah bergizi dan kaya serat. Dedak pada beras merah juga dibiarkan utuh, sehingga butuh waktu dua kali lipat lebih lama dari nasi untuk memasak. Namun, dedak membuat tekstur beras lebih kenyal dan rasa yang lebih pedas. Cara masak beras merah agar pulen, cukup tuang satu setengah gelas air saat memasak nasi. Baca juga 4 Cara Masak Beras Merah agar Pulen dan Lebih Enak 3. Beras basmati Dok. Unsplash/Pixzolo Photography Ilustrasi beras basmati yang sudah dimasak. Beras basmati merupakan beras varietas berbiji panjang yang berasal dari India. Beras tersebut memiliki bulir panjang, tekstur yang tetap kering, terpisah, dan bau harum aromatik saat dimasak. Selain itu, beras basmati juga kaya akan amilosa. Cara membuat tekstur beras basmati benar - benar lembut, kamu bisa merendam beras dalam air hangat selama 30 menit. Baca juga Cara Masak Beras Basmati dengan Panci dan Rice Cooker agar Pulen
www. PENDAHULUAN Karakteristik petani di Indonesia yang bersifat subsisten dengan kepemilikan lahan yang sempit menjadikan petani sangat mengggantungkan hidupnya terhadap lahan yang dimiliki, sehingga menyebabkan petani sering bersikap kurang kreatif, monoton dan protektif. Sikap yang demikian lebih mencerminkan pada ketakutan petani akan resiko kegagalan panen yang dihadapi jika mereka mencoba sesuatu yang baru. Oleh karena itu di dalam merencanakan program pertanian organik harus dilakukan berbagai pendekatan antara lain pendekatan program, kelembagaan, dan pendampingan terutama dalam penerapan teknologi budidaya. Pada dasarnya teknologi budidaya organik lebih menekankan kepada pemanfaatan bahan – bahan alami yang tersedia melimpah di sekitar petani untuk mendukung pertumbuhan tanaman tanpa menimbulkan efek negatif baik bagi lingkungan maupun tanaman itu sendiri, sehingga pemakaian bahan apapun harus melingdungi alam, petani maupun product yang dihasilkan dalam ekosistem pertanian tersebut. A. PEMILIHAN LOKASI LAHAN Dalam budidaya beras organik pemilihan lahan memegang peranan yang amat penting. Hal ini karena semua proses budidaya beras organik menggunakan lahan yang harus senantiasa bebas dari unsur – unsur non alami sintesis yang berasal dari luar lahan. Begitu pula tidak saja lahan dilihat dari aspek fisik tetapi juga lahan ditinjau dari aspek tata ruang dan geomorfologi. Oleh karena itu beberapa faktor yang harus diperhatikan di dalam pemilihan lahan untuk pengembangan beras organik adalah sebagai berikut 1. Tingkat Kesuburan Tanah Di dalam penilaian lahan dikenal dua macam istilah kesuburan tanah yaitu kesuburan aktual dan kesuburan potensial. Kesuburan Aktual adalah kemampuan tanah menyediakan unsur hara langsung bagi pertumbuhan tanaman, pengertiannya adalah jumlah unsur hara yang berada dalam larutan tanah yang mampu diambil/diserap oleh tanaman untuk pertumbuhannya. Parameter yang dapat dipakai untuk mengetahui kesuburan aktual secara sederhana adalah dengan melihat tingkat pertumbuhan tanaman asli yang ada di lahan tersebut. Apabila pertumbuhan tanaman asli tanpa pemupukan terlihat baik menunjukkan bahwa tingkat kesuburan aktual lahan tersebut baik, begitu pula sebaliknya. Sedangkan Kesuburan Potensial adalah kemampuan tanah menyediakan unsur hara bagi tanaman secara tidak langsung. Pengertiannya adalah jumlah unsur hara yang berada dalam bongkahan tanah terjerap di dalam koloid tanah yang tidak bisa langsung diserap / diambil oleh tanaman untuk pertumbuhannya. Jadi unsur hara tersebut apabila akan diserap oleh tanaman harus melalui proses pelepasan terlebih dahulu dari koloid tanah ke dalam larutan tanah. Tingkat kesuburan potensial ini dapat diketahui melalui pengujian sample tanah di dalam laboratorium. Parameter kesuburan potensial ini diantaranya Kejenuhan Basa KB, pH tanah, Kapasitas Tukar Kation KTK dan Jenis Mineral Tanah. Semakin tinggi KB dan KTK tanah maka tingkat kesuburan potensial tanah semakin tinggi. Secara sederhana kesuburan potensial ini dapat juga ditunjukkan oleh warna tanah, semakin gelap warna tanah maka kesuburan potensial semakin tinggi, sebagai contoh tanah-tanah disekitar pegunungan berapi memiliki warna yang lebih gelap dibandingkan dengan warna tanah di daerah yang jauh dari pegunungan berapi. Secara ringkasnya, tingkat kesuburan aktual berkaitan dengan pengusahaan lahan dalam jangka pendek sedangkan kesuburan potensial adalah pengusahaan lahan untuk jangka panjang. Oleh karena itu lahan yang baik adalah lahan yang memiliki tingkat kesuburan lahan aktual dan potensial yang tinggi. 2. Sifat Fisik Tanah Dalam usaha pemanfaatan tanah oleh manusia, pengetahuan tentang sifat-sifat fisik tanah sangat diperlukan sebagai dasar. Sebab penyimpanan unsur hara yang diperlukan tanaman dan kapasitas penyediaan air dalam tanah dapat diketahui ; selain itu dapat diketahui juga pertumbuhan akar dan aerasinya. Dari data tersebut dapat ditentukan jenis penggunaan tanah yang dimilikinya. Sifat fisik tanah tersebut diantaranya a. Tekstur Tanah Tekstur tanah merupakan sifat fisik tanah yang sukar berubah permanen, Tekstur tanah berarti komposisi antara bermacam – macam fraksi tanah yaitu fraksi pasir, debu dan liat lempung. Kasar atau halusnya tanah dapat ditentukan dari perbandingan ketiga fraksi tersebut. Tanah sawah yang mempunyai persentasi fraksi pasir dalam jumlah yang besar kurang baik untuk tanaman padi. Pada tanah sawah dituntut adanya lumpur, terutama untuk padi yang memerlukan tanah yang subur, dengan kandungan ketiga fraksi tersebut dalam perbandingan tertentu. Lumpur adalah butiran tanah halus yang seluruhnya diselubungi oleh air, sehingga pada tanah sawah diperlukan air dan butiran tanah dapat mengikat air dalam jumlah yang cukup, yang merupakan manifestasi dari banyaknya kandungan fraksi debu dan liat yang lebih kasar. b. Struktur Tanah Dalam pertanian, sifat tanah sangat berbeda – beda dan hal ini berhubungan dengan keadaan susunan tanah atau struktur tanahnya. Di pulau Jawa, menurut penelitian, padi dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18 – 22 cm, terutama tanah muda dengan pH antara 4 – 7, sedangkan lapisan olah tanah sawah, menurut IRRI International Rice Research Institute adalah dengan ketebalan 18 cm. Pada lapisan tanah atas untuk pertanian pada umumnya mempunyai ketebalan antara 10 – 30 cm dengan warna tanah coklat sampai kehitaman, tanah tersebut gembur. Pada lapisan ini terdapat kandungan humus bunga tanah yang tinggi, sehingga tanah berwarna coklat kehitam – hitaman. Humus ini terjadi karena pembusukan dekomposisi bahan organik sisa – sisa tanaman atau hewan oleh jasad renik mikroba yang ada di dalam tanah. c. Ruang Pori Tanah Kebutuhan air dan udara di dalam tanah merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi untuk kehidupan, baik tanaman maupun jasad renik yang ada di dalam tanah. Air dan udara diperlukan dalam jumlah yang seimbang. Ruang pori tanah adalah ruang antar butiran tanah di dalam struktur tanah. Keberadaan air dan udara di dalam tanah menempati ruang pori tanah dalam bentuk hubungan kesetimbangan. Apabila persentase air lebih banyak berada dalam ruang pori tanah maka jumlah udara di dalam pori tanah sedikit, begitu pula sebaliknya. Air di dalam tanah berfungsi membantu penyediaan unsur hara. Air mengalir membawa berbagai macam unsur hara dari daerah yang dilaluinya meresap ke dalam tanah di daerah perakaran kemudian diserap oleh tanaman untuk pertumbuhannya. Udara dapat masuk ke dalam tanah karena berbagai sebab, antara lain karena pengolahan tanah. Dengan pengolahan tanah maka udara akan masuk melalui pembalikan tanah. Udara tanah ini mengandung O2 yang berfungsi untuk pernafasan oleh akar tanaman. Keseimbangan antara udara dan air sangat diperlukan bagi tanah pertanian, sebab tanah yang kekurangan air dan kekurangan udara kurang baik bagi tanaman pada umumnya. 3. Bentuk Lahan dan Tata Ruang Bentuk lahan adalah penampakan lahan dilihat dalam suatu satuan hamparan. Faktor – faktor yang mempengaruhi bentuk lahan diantaranya proses pembentukan tanah, kemiringan, faktor eksternal, pergeseran kulit bumi dan sebagainya. Bentuk lahan dengan kemiringan lebih dari 5 persen tidak baik untuk budidaya padi. Perlakuan terasering pada umumnya digunakan untuk memanipulasi kendala kemiringan lereng tersebut, namun perlakuan tersebut akan menyebabkan pembalikan lapisan tanah bagian bahwa yang relatif kurang subur ke bagian atas. Di dalam budidaya beras organik penekanan pada aspek konservasi lahan sangat diperhatikan, maka disarankan memilih lahan yang secara alami memiliki bentuk yang relatif datar tanpa perlakuan fisik lagi dan berada dalam satu hamparan. Tata Ruang lahan adalah berkaitan dengan pengaturan penggunaan lahan dalam suatu kawasan hamparan. Di dalam budidaya beras organik ini pemilihan lahan sebagai tempat budidaya harus memperhatikan aktifitas penggunaan lahan disekitarnya, terutama penggunaan lahan di sebelah atas lahan yang akan dipakai untuk budidaya organik. Sebagai contoh penggunaan lahan untuk industri, lahan perkebunan intensif, dan lahan budidaya hortikultur non organik intensif dana lain sebagainya. Aktifitas industri akan mempengaruhi intervensi bahan – bahan non organik seperti asap mesin, limbah kimia, logam berat ke dalam kawasan budidaya beras organik tersebut. Walaupun di dalam budidaya kita tidak mempergunakan bahan – bahan non organik tetapi dalam kalau terjadi intervensi bahan non organik dari luar maka hasil produksi berasnya akan terdapat kandungan bahan – bahan non organik tersebut. 4. Riwayat Lahan Budidaya organik menekankan pada penggunaan bahan – bahan alami dalam proses budidaya pertaniannya maupun dalam pengendalian hama penyakitnya. Oleh karena sebelum melakukan budidaya beras organik sangatlah perlu diketahui kandungan residu pupuk kimia sistetis dan kandungan residu pestisida di lahan. Kandungan residu kimia sintesis dan residu pestisida di lahan dapat diketahui dengan dua cara, yaitu melakukan pengujian sample tanah di laboratorium atau menelusuri riwayat pengelolaan lahan sebelumnya. Pengujian sample tanah di laboratorium dapat mengetahui secara pasti jumlah kadungan residu kimia sintesis dan residu pestisida yang ada di lahan, sehingga dapat dipakai untuk membuat perencanaan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengurangi kandungan bahan residu tersebut dan bagaimana cara yang dipilih untuk menguranginya. Sedangkan riwayat lahan digunakan untuk menelusuri bagaimana pengelolaan dan intensitas budidaya tanaman pada periode sebelumnya. Lahan yang telah diusahakan secara intensif biasanya memiliki kandungan residu kimia sintesis dan residu pestisida lebih tinggi dibandingkan dengan lahan yang diusahakan tidak intensif. Menurut standar IFOAM, lahan yang telah dibudidayakan secara intensif dapat dinyatakan sebagai suatu lahan yang telah melakukan suatu proses pertanian organik apabila telah melakukan 5 – 7 budidaya pertanian organik. B. IRIGASI Air sangat diperlukan tanaman padi sawah untuk pertumbuhan. Tanpa air semua proses biologis akan terhenti, dan semua zat hara yang tersedia pun akan sia – sia. Fungsi air dalam penanaman padi sawah diantaranya ? Untuk memasak makanan, tanaman membutuhkan air, udara dan sinar matahari di dalam fotosintesisnya pemasakan makanan ? Air berfungsi membawa karbohidrat dan mineral ke bagian – bagian tanaman sebagai cadangan makanan ? Penguapan air berguna untuk kestabilan suhu di sekitar tanaman, pori – pori daun akan tertutup bila kadar air di dalam daun terlalu kecil Pengairan di sawah biasanya dibedakan menjadi pengairan terus menerus dan pengairan secara periodik. Di dalam budidaya padi organik pengairan juga menjadi sangat penting karena apabila tidak diperhatikan air dapat membawa bahan – bahan sintesis dan pestisida ke dalam lahan organik. Oleh karena penggunaan air irigasi untuk budidaya padi organik harus memenuhi syarat diantaranya 1. Air yang digunakan untuk mengairi sawah berasal dari mata air setempat yang langsung mengalir ke lahan organik atau air yang mengair tidak boleh melewati lahan atau area yang menggunakan bahan – bahan kimis sintesis, bahan pestisida kimiawi dan logam berat ke dalam air irigasi 2. Air yang masuk ke petak sawah harus dipertahankan agar bisa menggenangi dan merata, sehingga semua permukaan tanah terairi dan basah 3. Pada petak sawah harus terdapat lubang pemasukan dan pembuangan air yang letaknya berseberangan 4. Air yang membawa lumur dan kotoran diendapkan di dalam petak sawah 5. Aliran air di dalam petak persawahan melalui dua saluran pembuang dan pemasukan harus bisa menunjang pertukaran udara di dalam tanah, sehingga dapat dipakai untuk pernafasan akar – akar tanaman C. BENIH Dalam budidaya tanaman, pembenihan merupakan salah satu faktor pokok yang harus diperhatikan, karena faktor tersebut ikut menentukan produksi. Benih padi adalah gabah yang dihasilkan dengan cara dan tujuan khusus untuk digunakan sebagai bahan pertanaman. Kualitas benih ini ditentukan dalam proses perkembangan dan kemasakan benih, panen dan perontokan, pembersihan, pengeringan, penyimpanan benih sampai pertumbuhan di persemaian. Sertifikasi benih yang mendapat pemeriksaan lapangan dan pengujian laboratoris dari instansi yang berwenang dengan memenuhi standar yang telah ditentukan adalah sangat diperlukan. Benih bersertifikasi dibagi dalam empat kelas, yaitu 1. Benih Penjenis Breeder Seed = SS = Benih teras Yakni benih yang dihasilkan oleh instansi yang telah ditentukan atau di bawah pengawasan pemulia tanaman. Benih ini jumlahnya sedikit dan merupakan sumber perbanyakan benih dasar. Benih ini masih murni. 2. Benih Dasar Foundation Seed = FS Benih dasar merupakan keturunan pertama dari benih penjenis yang memenuhi standar mutu kelas benih dasar. Benih ini hasil produksi Lembaga Pusat Penelitian, Balai Benih dan produsen tertentu yang disertifikasi oleh Balai pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura. 3. Benih Pokok Stock Seed = SS Keturunan pertama dari benih dasar atau benih penjenis yang memenuhi standar kelas benih pokok. Benih pokok disertifikasi oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura. 4. Benih Sebar Extension Seed = ES Benih sebar ini adalah keturunan pertama dari benih pokok, benih dasar atau benih penjenis yang memenuhi standar mutu kelas benih sebar. Benih sebar disertifikasi oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura. Adapun ketentuan persyaratan untuk benih sebar komoditi padi benih berlabel biru adalah sebagai berikut ? Kemurnian benih minimal 98,0% ? Persentase kotoran 2,0% ? Mempunyai daya tumbuh minimal 80,0% ? Kadar air dalam benih maksimal 13,0% ? Persentase biji tanaman lain dalam benih sebar maksimal 0,2% ? Persentase biji rumput maksimal 0,2% Dengan adanya sertifikasi benih ini, diharapkan para petani dapat menggunakan benih yang bersertifikat utamanya benih berlabel biru. Label benih yang terdapatpada kemasan benih tertulis keterangan sebagai berikut Nama produsen benih, Alamat, Jenis tanaman, Varietas, Berat bersih, Nomor kelompok, Tanggal selesai pengujian, Kadar air, Benih murni, benih varietas lain, kotoran benih, biji rumputan, Daya tumbuh, Tanggal akhir berlakunya label. Pada dasarnya jenis bibit apapun bisa digunakan dalam proses produksi beras organik. Namun, seperti dijelaskan di atas, pemilihan varietas sangat penting dilakukan dalam rangka untuk menghasilkan kualitas beras organik yang baik. Penggunaan varietas unggul akan sangat besar manfaatnya dalam menekan tingkat serangan hama atau penyakit, adaptasi terhadap lingkungan, dan kemampuan untuk bereproduksi tinggi. Dengan pemilihan varietas unggul yang baik dan tepat maka resiko buruk terhadap tanaman padi yang ditanam menjadi sangat kecil. Sebaliknya kita pun justru mendapatkan manfaat – manfaat yang optimal. Sebagai acuan dalam memilih varietas untuk proses produksi beras organik maka di bawah ini disajikan sifat – sifat varietas unggul padi. Namun biasanya sifat – sifat ini tidak kesemuanya ada dalam satu jenis varietas unggul saja. Sifat – sifat varietas unggul padi 1. Beranak banyak 2. Anakan produktif tinggi 3. Jumlah butir padi daam tiap bulir di atas 150 buah 4. Sangat baik dalam menyerap pupuk 5. Berumur sekitar 110 – 135 hari setelah tebar 6. Tahan terhadap hama dan penyakit utama 7. Berdaun tegak, sehingga dapat menangkap sinar matahari secara efektif yang berguna untuk fotosintesa 8. Tanah rebah karena bentuknya yang pendek dan kaku D. PEMUPUKAN Tanaman padi memerlukan makanan unsur hara untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Unsur hara yang terkandung di dalam setiap bahan untuk melengkapi unsur hara yang ada pada tanah yang diperlukan tanaman, dinamakan pupuk. Tujuan penggunaan pupuk ialah untuk memperbaiki struktur tanah dan untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi tumbuhan yang berfungsi sebagai, cadangan makanan, pertumbuhan tanaman, mempertahankan kehidupan tanaman dan sebagai proses reproduksi. Di dalam proses budidaya padi secara organik maka hal yang sangat diperlukan adalam pemakaian pupuk organik dan bukan pupuk kimia sintesis. Penekanan ini sebetulnya merupakan langkah konservasi terhadap lahan. Penggunaan pupuk kimia sintesis yang berlebihan akan memberikan dampak negatif diantaranya , perubahan sifat fisik tanah struktur tanah menjadi pejal / mampat, ruang pori tanah menurun dsb, penurunan sifat kimia tanah penurunan pH tanah, ketersediaan unsur hara dalam larutan tanah, dan ketergantungan beberapa varietas padi terhadap pupuk kimia yang semakin meningkat. Oleh karena itu, pupuk yang digunakan dalam budidaya padi organik ini adalah pupuk organik alami. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan dan sisa – sisa makanan atau hewan yang telah terdekomposisikan yang digunakan untuk memperbaiki struktur tanah dan menambah unsur hara. Pada awalnya hanya dikenal dua macam pupuk organik, pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan dan pupuk hijau yaitu pupuk organik yang menggunakan bahan sisa tanaman sebagai bahan untuk didekomposisikan. Namun seiring dengan kemajuan bioteknologi, telah diketemukan cara yang tepat untuk membuat pupuk organik. Cara tersebut diantaranya adalah penggunaan mikrobakter untuk mendekomposisikan bahan organik sehingga dapat mudah diserap oleh tanaman. Juga penggunaan cacing rubellus dan malacus untuk mengurai bahan organik sehingga menjadi pupuk yang baik untuk tanaman pertanian. Penggunaan pupuk organik ini sebetulnya tidak saja berfungsi untuk mensuplai unsur hara bagi tanaman tetapi juga untuk memperbaiki sifat – sifat fisika, kimia dan biologi tanah sehingga tanah mampu memberikan daya dukung yang berlangsung terus menerus bagi pertumbuhan tanaman. E. PENGENDALIAN HAMA Pengendalian hama dan penyakit tanaman di dalam budidaya padi organik ini menjadi sesuatu sangat penting. Hal ini disebabkan oleh tingginya ketergantungan pertani terhadap penggunaan pestisida sehingga diperlukan usaha keras untuk merubah budaya konvensional kepada inovasi baru Pengendalian Hama Tanaman yang mengutamakan pengendala alami. Di dalam budidaya tanaman padi secara organik, pengendalian hama penyakit dengan memanipulasi lingkungan yang tidak nyaman bagi perkembangbiakan hama penyakit dan menghilangkan secara gradual keberadaan hama dan penyakit tersebut. Sedangkan bahan yang digunakan dalam pengendalian hama penyakit ini digolongkan menjaditiga macam, yaitu Predator, yaitu organisme yang bertindak sebagai pemangsa bagi hama atau penyakit tanaman. Agen Hayati, adalah setiap organisme yang meliputi spesies, sub spesies, varitas, semua jenis serangga, nematoda, protozoa, cendawan, bakteri, virus, microplasma yang dalam semua tahap perkembangannya dapat digunakan untuk keperluan pengendalian hama penyakit tanaman. Pestisida Nabati, yaitu pestisida atau bahan pembunuh hama atau bahan yang membuat hama tidak nyaman berada pada tanaman tersebut yang dibuat dari bahan – bahan nabati. Sebagai contoh, penggunaan buah mahoni, kencur, daun bratawali, daun wedusan dan sebagainya. F. PASCA PANEN ? Pengeringan Tahap pertama setelah panen adalah pengeringan. Gabah hasil panen Gabah Kering Sawah harus dikeringkan terlebih dahulu sampai kadar air tertentu sebelum digiling menjadi beras. Pengeringan harus seragam dan kadar kekeringan maksimum yang diisyaratkan agar gabah tidak pecah saat digiling menjadi beras. Beras yang pecah akan menurunkan kualitas beras harga. Teknologi yang diperlukan dalam pengeringan ini diusahakan yang efisien baik luas lahan pengeringan, lama pengeringan, sumber energi untuk mengeringkan dan tenaga kerja yang mengolah pengeringan. Jika selama ini mengeringkan gabah dengan teknologi tradisional yaitu dijemur dengan mengandalkan panas sinar matahari, terdapat beberapa kelemahan, antara lain 1. Volume sangat tergantung dengan luas lahan penjemuran 2. Kadar kekeringan tidak dapat seragam karena tergantung pada sumber panas sinar matahari yang tidak rata 3. Waktu pengeringan menajdi lama dan tergantung dengan lamanya sinar matahari kendala cuaca dan rotasi siang-malam 4. Tenaga kerja penjemuran sangat banyak 5. Resiko susut sangat besar karena tertiup angin, rusak terinjak – injak tenaga kerja Untuk mengatasi kendala diatas, disarankan pengeringan dilakukan dengan menggunakan alat pengering otomatis dryer. Dryer memiliki beberapa kelebihan antara lain 1. Tidak tergantung cuaca, dapat dikerjakan siang dan malam, terus menerus 24 jam 2. Volume yang maksimal. Beberapa dryer memiliki kapasitas hingga 20ton/jam 3. Kadar kekeringan yang maksimal dan merata, karena panas yang diterima merata kesemua sisi dengan panas yang konstan. Kadar kekeringan yang diinginkan dapat dicapai dalam waktu yang singkat 4. Tidak memerlukan lahan yang luas dan dapat ditempatkan dilokasi yang diinginkan 5. Mengurangi resiko susut dan terjaga kebersihannya karena pengeringan diisolasi dalam ruang tertutup dalam dryer ? Penggilingan Proses selanjutnya adalah penggilingan dari gabah kering digiling menjadi beras. Untuk menjadi beras yang baik kualitasnya, gabah kering giling yang diisyaratkan harus mencapai kadar kekeringan maksimal 14%. Hal ini supaya gabah yang digiling mudah terkupas kulitnya. Penguasaan teknologi mesin penggilingan juga mempengaruhi hasil beras yang didapat. Pengaturan mesin yang tidak tepat dapat mengakibatkan 1. Gabah tidak dapat digiling atau bisa juga gabah pecah saat digiling 2. Tidak efisien, boros bahan bakar, bising dan tidak awet Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah limbah hasil penggilingan berupa sekam dan dedak harus diatur penempatannya sehingga tidak mencemari lingkungan. Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam merencanakan sebuah rice milling unit RMU atau mesin penggiling padi adalah 1. Lokasi penempatan yang tidak mengganggu 2. Instalasi yang tepat dan mudah dalam perawatannya 3. Pemilihan mesin disesuaikan dengan kebutuhan yang meliputi kapasitas yang diinginkan, dana yang tersedia, kemudahan perawatan, mesin yang baik performanya 4. Pembangunan harus ditunjang sarana yang lain, seperti dekat dengan gudang penyimpanan dan kemudahan transportasi dalam proses selanjutnya 5. Tenaga operator RMU yang berpengalaman ? Pengayakan / Sorting Proses selanjutnya adalah penyaringan. Beras yang diperoleh dari proses penggilingan umumnya masih ditemui gabah yang tidak pecah, kulit, batu, kotoran. Disamping itu terdapat pula beras yang pecah, tidak utuh, beras putih, beras merah, beras kuning, beras hijau, dll. Proses penyaringan dilakukan dua tahap 1. Pengayakan bertujuan untuk mendapatkan beras yang utuh, palin tidak persentase beras pecahnya maksimal 5% 2. Pengipasan bertujuan untuk menghilangkan kulit, gabah kopong, debu dan kotoran yang ringan 3. Penyaringan sorting bertujuan untuk memisahkan membuang benda yang tidak diinginkan, yaitu batu, beras merah, beras putih, beras kuning, beras hijau, gabah, dan benda lainnya. Hasil akhir yang diperoleh adalah beras yang bersih dengan ukuran yang utuh. ? Pengemasan Setelah melalui beberapa tahap penyaringan hingga diperoleh beras organik dengan standar 1. Beras pecah maksimal 5% 2. Kadar kekeringan maksimal 14% 3. Bersih, bebas kotoran, bebas beras merah, putih, kuning, hijau Maka beras siap dikemas dalam kemasan yang juga harus memenuhi standar organik, yaitu 1. Aman, tidak mencemari beras 2. Kemasan berasal dari bahan baku yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang 3. Tidak menambahkan bahan pengawet dari bahan kimia yang berbahaya ? Penyimpanan Beras organik yang sudah dikemas disimpan dalam ruang dengan temperatur yang terjaga dalam ruangan yang bersih dan sirkulasi udara yang lancar. Sumber Di sadur Oleh M. ZAINI_PPL BKP3 Situbondo dari Yayasan Inovasi Tani Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur Tahun 2006
KISI-KISI Soal USBN Kelas 12 SMA/MA Prakarya Lengkap Dengan Kunci Jawabannya – Halo adik-adik siswa, Kembali lagi dengan kami topiktrend, Yuk kita membahas soal UAS beserta Kunci Jawaban Mata Pelajaran Prakarya, untuk adik adik yang sedang duduk dibangku kelas 12 SMA/MA. Soal ini terdiri dari soal pilihan ganda dan soal essay beserta dengan kunci jawabannya. Pembelajaran Prakarya pada tingkat sekolah lanjutan pertama didahulu dengan suatu wawasan mengenai kearifan lokal di lingkungan sekitar menuju teknologi terbarukan. Pembelajaran mengenai prakarya dimulai dengan memahami fakta, prosedur, konsep maupun teori yang ada melalui suatu studi perorangan, kelompok maupun juga projek agar dapat memberi suatu dampak kepada pendidikan karakter yang dapat berupa kecerdasan kolektif. Hasil pembelajaran tersebut melalui suatu eksplorasi alami maupun juga dengan buatan artificial yang dapat bermanfaat sebagai media sekaligus sebagai bahan pelajaran. Berikut topiktrend menyajikan Soal UASBN Prakarya Kelas 12 SMA/MA Sebagaimana dilansir bospedia PETUNJUK UMUM 1. Tulis namamu di sudut kanan atas 2. Bacalah setiap soal dengan teliti. 3. Kerjakan dulu soal yang kamu anggap mudah. 4. Periksa kembali pekerjaanmu sebelum diserahkan pada pengawas. A. Berilah tanda silang x didepan huruf a,b atau c didepan jawaban yang benar ! 1. Pengawetan dengan menguapan sebagian air dalam bahan pangan dengan energi panas dinamakan . . . a. Pelayuan b. Pengeringan c. Pengasapan d. Pengasinan e. Pemanasan 2. Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari dinamakan . . . a. Case hardening b. Artificial dryer c. Sun drying d. Tunnel dryer e. Micer meat 3. Penjemuran dilakukan selama . . . a. Satu hari b. Satu minggu c. Satu tahun d. Tidak tentu e. Tergantung cahaya matahari 4. Jenis plastik yang dapat digunakan untuk kemasan bahan mentah nabati adalah . . . a. Plastik minuman b. Plastik polippropilen atau pp c. Plastik makanan d. Plastik karung e. Plastik mainan 5. Desain kemasan produk bahan nabati meliputi sebagai, kecuali . . . a. Gambar b. Pewarnaan c. Tulisan d. Cuaca e. Kode produksi 6. Pengawetan dalam keadaan . . . lebih tahan lama daripada olahan. a. Matang b. Mentah c. Setengah matang d. Sangat matang e. Lembab 7. Alasan penggunaan bahan plastik sebagai pengemasan bahan nabati adalah sebagai berikut, kecuali . . . a. Mudah didapat b. Sulit didapat c. Memungkinkan barang terlihat secara trasparan d. Murah dan kuat e. Terhindar dari udara 8. Berikut ini adalah tujuan pengemasan bahan nabati, kecuali . . . a. Menarik minat orang yang terlihat b. Melindungi barang c. Sebagai daya tarik d. Dijadikan benih e. Nilai estetika 9. Tujuan pengasapan bahan mentah nabati adalah . . . a. Supaya nabati benar-benar basah b. Supaya nabati terkena sinar matahari c. Supaya nabati menarik konsumen d. Supaya nabati benar-benar kering dan tidak lembap e. Supaya nabati laku dijual 10. Pada saat proses penjemuran bahan mentah nabati seperti padi, jagung, dan kacang akan menarik ayam untuk mematukinya. Oleh sebab itu bahan nabati harus . . . a. Dibuang b. Dimasak c. Ditunggu d. Dibiarkan e. Dilihat 11. Produk pengawetan yang dihasilkan dari cabai adalah . . . a. Kecap b. Saus c. Tepung jagung d. Kuaci e. Tepung sagu 12. Kemasan pembungkus coklat terbuat dari .. a. Tembaga b. Kertas c. Besi d. Aluminium e. Seng 13. Beras atau bahan nabati yang dikeringkan dapat menggunakan . . . sebagai media kemasannya a. Kain perca b. Karung c. Papan d. Terpal e. Sarung bantal 14. Produk selai dibuat dengan cara mengawetkan . . . a. Tembakau b. Nanas c. Cengkeh d. Jagung e. Padi 15. Bahan nabati yang diawetkan harus memiliki kadar air yang . . . a. Tinggi b. Sedang c. Rendah d. Banyak e. Sedikit 16. Jenis ayam yang baik digunakan dalam teknik pengasapan adalah . . . a. Ayam bukan ras b. Ayam boiler c. Ayam petelur d. Ayam kampong e. Ayam kate 17. Berkurangnya kadar air daging ayam dalam teknologi pengasapan dapat mencapai . . . a. 20% b. 30% c. 70% d. 50% e. 40% 18. Komposisi kalori yang terdapat dalam daging ayam per 100 g bahan adalah . . . a. 400 kal b. 503 kal c. 302 kal d. 330 kal e. 202 kal 19. Bahan ini yang tidak termasuk bahan yang diperlukan untuk pengolahan daging asap adalah . . . a. Sabut kelapa b. Bubuk gergaji c. Garam d. Kayu keras e. Batu bata 20. Proses pengasapan daging ayam dilakukan selama . . . a. 1-2 jam b. 2-3 jam c. 4-5 jam d. 5-6 jam e. 7-8 jam 21. Sikap yang harus dimiliki oleh seseorang yang ingin berwirausaha adalah . . . a. Berani mencoba dan mengambil resiko b. Pesimis dan gigih c. Berkecil hati dan putus asa d. Jujur dan pesimis e. Inovatif dan berkecil hati 22. Dalam karakter berwirausaha orang yang memiliki pandangan dan pemikiran ke depan disebut . . . a. Percaya diri b. Berorientasi ke masa depan c. Kreativ d. Keberanian mengambil resiko e. Kepemimpinan 23. “Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan ke dalam wilayah Indonesia, pangan yang dikemas untuk diperdagangkan wajib mencantumkan label pada, di dalam dan atau dikemas pangan” Bunyi undang-undang tersebut terdalam dalam UU No 7 tahun . . . a. 2001 b. 2004 c. 1996 d. 1997 e. 1998 24. Proses terakhir dalam proses pengawetan bahan nabati dan hewani adalah pengemasan. fungsi kemasan kecuali . . . a. Perlindungan b. Pengemasan untuk pemasaran c. Penanganan produk d. Melindungi produk e. Memudahkan dalam memilih 25. Cara merancang pengawetan bahan nabati dan hewani hal pertama dilakukan adalah . . . a. Percobaan b. Perencanaan produksi c. Pembuatan produk pengawetan dari nabati atau hewani d. Mencari ide e. Pengemasan 26. 1. Garam 2. Gula 3. Benzoat 4. Asam sorbet 5. Sulfur Dioksida 6. Antioksidan Bahan-bahan di atas yang termasuk bahan pengawet alami adalah a. 5 dan 6 b. 3 dan 4 c. 1 dan 2 d. 2 dan 6 e. 1 dan 5 27. Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari dinamakan . . . a. Case hardening b. artificial dryer c. sun drying d. tunnel dryer e. micer meat 28. Proses blaching biasanya dilakukan pada suhu 82o-93o selama . . . a. 6-8 menit b. 8-10 menit c. 10-13 menit d. 1-3 menit e. 3-5 menit Buka halaman selanjutnya Pages 1 2
beras atau bahan nabati yang dikeringkan dapat menggunakan